Minut, VivaSulut – PT Meares Soputan Mining (MSM) membantah tudingan sejumlah warga yang mengaitkan longsor di ruas jalan nasional penghubung Desa Pinenek, Kecamatan Likupang Timur, Minahasa Utara, dan Kelurahan Pinasungkulan, Kecamatan Ranowulu, Kota Bitung, dengan aktivitas peledakan (blasting) perusahaan tambang tersebut.
External Relation Department Head PT MSM, Herry Sinyo Rumondor, menegaskan bahwa tidak ada aktivitas blasting yang dilakukan perusahaan di lokasi yang disebut-sebut menjadi penyebab longsor.
Menurut Inyo, sapaan akrab Herry Sinyo Rumondor, aktivitas peledakan di area tersebut sudah lama tidak dilakukan, bahkan mendekati satu tahun.
“Ini jalan yang turun dan subuh tadi longsor. Sudah hampir satu tahun tidak ada blasting di situ,” kata Inyo kepada VivaSulut.id, Minggu (7/6/2026).
Pernyataan itu disampaikan menyusul beredarnya anggapan di masyarakat yang menyebut tanah di bawah badan jalan telah berongga akibat aktivitas blasting, sehingga menjadi sensitif terhadap curah hujan dan akhirnya longsor.
Inyo menegaskan, dugaan tersebut tidak sesuai dengan kondisi operasional perusahaan di lapangan. Ia memastikan tidak ada kegiatan peledakan yang dilakukan PT MSM dalam kurun waktu yang cukup lama di kawasan tersebut.
Sebelumnya, ruas jalan nasional yang menghubungkan Minahasa Utara dan Kota Bitung dilaporkan mengalami longsor pada Minggu dini hari. Material tanah yang ambles menyebabkan badan jalan terputus sepanjang sekitar 100 meter sehingga tidak dapat dilalui kendaraan.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengimbau masyarakat untuk sementara menggunakan jalur alternatif. BPBD Minut juga berkoordinasi dengan BPBD Kota Bitung dan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sulawesi Utara guna mempercepat penanganan di lokasi bencana.
Hingga saat ini, penyebab pasti longsor masih menunggu hasil kajian teknis dari instansi terkait. Namun, PT MSM memastikan bahwa peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan aktivitas blasting perusahaan karena kegiatan peledakan di area tersebut sudah lama tidak dilakukan.
(Finda Muhtar)











