
Jakarta, VivaSulut.com – Serangan gabungan AS dan Israel yang berhasil menargetkan jantung pemerintahan Iran pada Sabtu (28/2/2026), ternyata tak lepas dari peran vital Central Intelligence Agency (CIA).
Badan intelijen AS tersebut dilaporkan telah melacak pergerakan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, selama berbulan-bulan.
Dilansir dari Kompas.com, CIA berhasil mengidentifikasi lokasi persis serta pola perilaku Khamenei dengan tingkat akurasi tinggi.
Informasi intelijen ini mengungkap bahwa sebuah pertemuan rahasia pejabat tinggi Iran akan berlangsung pada Sabtu pagi di kompleks kepemimpinan Teheran, dan Khamenei dipastikan hadir di sana.
Serangan sempat direncanakan malam hari
Awalnya, Washington dan Tel Aviv berencana melancarkan serangan pada malam hari di bawah perlindungan kegelapan.
Namun, menyusul informasi intelijen terbaru mengenai pertemuan tersebut, waktu operasi diputuskan untuk diubah guna memaksimalkan peluang melumpuhkan seluruh jajaran elite pertahanan Iran sekaligus.
Pertemuan tersebut dilaporkan berlangsung di kompleks yang menaungi kantor kepresidenan, pemimpin tertinggi, serta Dewan Keamanan Nasional Iran.
CIA meneruskan data lokasi presisi ini kepada militer Israel, yang kemudian mengeksekusi operasi pembunuhan terarah tersebut.
Operasi dimulai sekitar pukul 06.00 pagi waktu Israel saat jet-jet tempur lepas landas dengan persenjataan amunisi jarak jauh yang sangat akurat.
Pukul 09.40 waktu Teheran, rudal-rudal tersebut menghantam kompleks pemerintahan saat para pejabat senior keamanan Iran tengah berkumpul.
Meski Iran telah bersiap menghadapi perang, Israel diklaim berhasil mencapai “kejutan taktis”.
Serangan dilakukan secara serentak di beberapa titik lokasi pertemuan tokoh politik dan keamanan senior.
Pada Minggu, kantor berita negara Iran, IRNA, mengonfirmasi kematian dua petinggi militer yang menjadi target utama, Laksamana Muda Ali Shamkhani dan Mayor Jenderal Mohammad Pakpour.
Seorang mantan pejabat AS mengungkapkan bahwa kemampuan intelijen Washington meningkat drastis sejak konflik 12 hari pada Juni tahun lalu.
Selama periode tersebut, AS mempelajari secara mendalam bagaimana Khamenei dan IRGC berkomunikasi serta bergerak dalam kondisi tertekan.
Pengetahuan inilah yang digunakan untuk memprediksi pergerakan Khamenei dengan lebih tajam.
Selain kompleks kepemimpinan, serangan lanjutan juga menyasar lokasi persembunyian para perwira intelijen utama Iran.
Meski pejabat intelijen tertinggi dilaporkan berhasil meloloskan diri, jajaran senior badan intelijen Iran disebut telah “hancur lebur”.
Operasi tersebut juga menunjukkan kegagalan para pemimpin Iran untuk mengambil tindakan pencegahan yang memadai agar tidak mengekspos diri mereka sendiri pada saat Israel dan AS mengirimkan sinyal yang jelas bahwa mereka sedang bersiap untuk perang.
(redaksi)







