Jakarta, VivaSulut.com – Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya yang melimpah dianugerahi keindahan alam yang tidak ada duanya.
Dari mulai gugusan pengunungan, pesisir pantai yang indah, hingga puncak gunung yang tidak kalah memanjakan mata.
Seharusnya keindahan ala mini bisa menjadi potensi pariwisata Nusantara yang sangat luar biasa.
Jika dikelola secara lebih optimal dan mendapat dukungan infrstruktur yang memadai serta promosi yang berkelanjutan.
Dilansir dari suara.com, sektor wisata Indonesia bisa memiliki peluang besar menjadi penggerak ekonomi nasional yang mungkin akan masuk ke kancah internasional.
Namun sayang sekali, selama ini popularitas destinasi wisata alam kita masih berpusat di beberapa titik ikonik seperti Bali, Gunung Rinjani, Kawah Ijen, atau Bromo.
Masih banyak keindahan alam lain di berbagai sudut daerah Indonesia yang masih belum tersentuh perhatian publik karena keterbatasan aksesibilitas dan minimnya promosi.
Namun, di saat potensi tersebut belum sempat mekar sempurna, ancaman serius justru datang dari ekspansi aktivitas pertambangan yang tidak terkendali.
Proses pertambangan yang tidak dibarengi dengan analisis dampaknya pada daerah sekitar inilah yang membuat beberapa destinasi wisata alam Indonesia mulai rusak dan menghilang perlahan.
Berikut ini 4 destinasi wisata alam Indonesia yang menyimpan potensi besar namun kini menghadapi ancaman kerusakan ekologis akibat aktivitas penambangan.
1. Pantai Kartika dan Pulau Senja di Pesisir Konawe Selatan
Destinasi wisata pertama yang mulai rusak akibat aktivitas pertambangan adalah pantai Kartika dan pulau Senja di konawe Selatan.
Sebelum ekspansi tambang menyerang, kawasan Konawe Selatan di Sulawesi Tenggara dulunya dikenal berkat perairan yang jernih, jajaran tebing yang megah, serta pemandangan alam yang asri.
Kini, aktivitas tambang batu gamping di wilayah Moramo dan Moramo Utara mulai mengeruk bukit serta tebing karst ikonik setempat.
Area yang semula hijau dan asri, kini terancam gundul. Air laut yang kian keruh akibat sedimentasi, bahkan kawasan pantai Senja yang dikabarkan mulai rata akibat dampak ekspansi pertambangan.
Kerusakan lingkungan ini tentunya secara perlahan akan mengikis daya tarik wisatawan pada salah satu wisata alam yang ikonik tersebut.
2. Kawasan Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi
Destinasi wisata selanjutnya adalah kawasan Gunung Tumpang Pitu. Pegunungan ini memiliki potensi sumber daya emas dan dimanfaatkan sebagai lokasi pertambangan.
Namun, kawasan ini tergolong wilayah ekologi sensitif karena kawasaan bukit dan gunungnya berdekatan dengan kawasan hutan dan pesisir di kabupaten Banyuwangi yang menjadi sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat setempat.
Aktivitas tambang ini melahirkan dampak ekologis dan sosial bagi masyarakat setempat.
Dari segi lingkungan, operasional tambang ini berdampak negatif pada pencemaran air dan tanah akibat penggunaan bahan kimia.
Selain itu, penggerukan tambang yang berakibat pada pembukaan lahan di pegunungan memicu erosi serta banjir lumpur yang merusak pertanian serta pesisir.
Hal ini berakibat pada mulai rusaknya kawasan pesisir dan menghilangkan daya tarik wisatawan.
3. Raja Ampat Papua
Siapa yang tidak mengenal keindahan Raja Ampat? Destinasi wisata yang sangat indah di Papua Barat Daya pernah mengalami ancaman kerusakan akibat penambangan nikel.
Walaupun pemerintah pada akhirnya telah mencabut izin operasional tambang di kawasan tersebut, pengerukan yang sempat terjadi pada beberapa pulau telah meninggalkan kerusakan ekologis.
Ekosistem pesisir dan vegetasi pulau yang mulai gundul membutuhkan proses pemulihan alamiah yang memakan waktu yang sangat panjang agar kembali utuh seperti sedia kala.
4. Gunung Penanggungan Mojokerto
Gunung Penanggungan merupakan cagar budaya sekaligus wisata alam yang menyimpan ratusan situs arkeologi berupa candi, petirtaan, dan gua pertapaan dari era Hindu-Buddha.
Gunung ini juga menjadi destinasi wisata bagi para pendaki pemula, sebab aksesnya yang mudah dijangkau dan tidak terlalu curam/tinggi.
Namun, kini aktivitas penambangan pasir dan batu ilegal di lereng gunung semakin marak dan mengancam kelestarian ekosistem serta keberadaan situs sejarah berharga di sekitarnya.
Bahkan akibat aktivitas ini lahan pertanian di Desa Karangdiyeng, Kecamatan Kutorejo, ini dikeruk hingga menimbulkan kubangan dan jurang menganga.
Sektor pertambangan memang memegang peranan penting dalam menyokong kebutuhan sumber daya alam dan pembangunan ekonomi nasional.
Kita tidak bisa menampik bahwa hasil tambang dibutuhkan oleh industri modern.
Namun, penambangan hendaknya dijalankan dengan prosedur teknis yang ketat, kajian dampak lingkungan (AMDAL) yang transparan, serta tata ruang yang jelas.
Pemerintah dan pelaku industri perlu melihat kondisi lingkungan secara holistik. Jangan sampai semua kawasan dikeruk tanpa memikirkan daya dukung ekologis jangka panjang.
(redaksi)











