Sangihe, VivaSulut – Dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang perairan utara Sulawesi mulai terlihat.
Sebanyak 74 rumah warga di Pulau Kawio, Kecamatan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dilaporkan mengalami kerusakan.
Selain itu, lima fasilitas umum dan satu rumah ibadah turut terdampak akibat guncangan kuat yang memicu kepanikan warga, Senin (8/6/2026).
Gempa yang terjadi pada pagi hari tersebut meninggalkan jejak kerusakan di Pulau Kawio, salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Filipina.
Data sementara yang dihimpun pemerintah daerah menunjukkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang masih dalam proses pendataan.
Selain permukiman penduduk, lima fasilitas umum dan satu rumah ibadah juga dilaporkan terdampak akibat guncangan yang terasa sangat kuat di wilayah tersebut.
Warga yang merasakan gempa berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Kepanikan semakin meningkat setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Sangihe, Wandu Labesi, mengatakan pihaknya masih melakukan verifikasi terhadap laporan kerusakan yang diterima dari Pulau Kawio.
“Informasi yang kami terima saat ini masih bersifat sementara dan perlu diverifikasi lebih lanjut. Kami telah berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan untuk memperoleh data yang lebih akurat mengenai kondisi di lapangan,” kata Labesi.
Menurutnya, proses pendataan dilakukan secara cermat karena jumlah bangunan yang dilaporkan terdampak cukup banyak dan tersebar di sejumlah lokasi.
Besarnya dampak yang dilaporkan membuat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe mempertimbangkan penetapan status tanggap darurat bencana.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat penanganan dan penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.
“Pemerintah daerah akan mengambil langkah-langkah penanganan sesuai kondisi yang ada, termasuk menyiapkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi ini,” ujarnya.
Wandu Labesi mengakui kemampuan fiskal daerah memiliki keterbatasan. Namun demikian, pemerintah memastikan kebutuhan warga terdampak tetap menjadi prioritas utama dalam proses penanganan pascabencana.
Gempa yang terjadi sekitar pukul 07.35 WITA sebelumnya memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya.
Warga pesisir sempat melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi.
Setelah dilakukan pemantauan intensif, BMKG akhirnya mencabut peringatan dini tsunami karena tidak ditemukan potensi gelombang yang membahayakan wilayah pesisir.
Hingga Senin siang, pemerintah daerah bersama BPBD dan instansi terkait masih terus melakukan pendataan kerusakan serta memantau kondisi warga di Pulau Kawio. Jumlah bangunan terdampak diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses asesmen yang terus berlangsung di lapangan.
(Nie)










