Harga Minyak Melonjak, Nilai Tukar Rupiah ke Dollar AS Sentuh Angka Segini

Ilustrasi nilai tukar rupiah ke dollar.

Jakarta, VivaSulut.com – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) nyaris menyentuh level psikologis Rp 17.000 per dollar AS pada perdagangan Senin (9/3/2026).

Pelemahan tajam ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berimbas pada lonjakan harga minyak dunia.

Tekanan tidak hanya terjadi pada nilai tukar rupiah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami pelemahan tajam dan sempat terkoreksi hampir 5 persen pada awal perdagangan awal pekan ini, sebelum akhirnya sedikit mereda.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dan IHSG pada perdagangan awal pekan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan domestik yang membuat sentimen pasar menjadi sangat sensitif.

“Tentang rupiah dan IHSG yang melemah. Bahkan indeks harga saham gabungan sudah melemah ke 5 persen, kemudian rupiah ke Rp 17.000. Apa yang menyebabkan rupiah dan IHSG melemah cukup tajam dalam perdagangan di hari Senin ini? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi adalah faktor eksternal dan internal,” ujar Ibrahim seperti dilansir Kompas.com.

Dari sisi eksternal, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama gejolak di pasar keuangan global.

Situasi semakin memanas setelah terpilihnya Putra Ayatollah Ali Khamenei, Seyyed Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin baru Iran yang menggantikan sang ayah.

Menurut Ibrahim, pemimpin baru Iran dikenal sebagai tokoh yang memiliki pandangan fundamentalis sehingga berpotensi memperpanjang konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ia memperkirakan konflik di kawasan tersebut berpotensi berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

“Jadi ini sudah ada pergantian kepemimpinan di Iran, yang kita lihat bahwa pemimpin yang baru ini pun juga adalah pemimpin yang fundamentalis Islam, sehingga kemungkinan besar dalam enam bulan ke depan perang di Timur Tengah ini masih akan terus berjalan,” paparnya.

Ketegangan semakin meningkat setelah muncul pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut kemungkinan perubahan rezim di Iran.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Ibrahim mencatat situasi tersebut berdampak langsung terhadap jalur distribusi energi global, terutama setelah terjadinya gangguan pada Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia dari kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi ekspor minyak dari negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab.

Ketika jalur tersebut terganggu, sejumlah negara produsen energi mulai mengurangi produksinya, sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya risiko keamanan.

Pengurangan produksi ini kemudian mendorong harga minyak dunia melonjak tajam.

Pada perdagangan Senin pagi atau pukul 09.20 WIB, harga minyak mentah Brent berada di 113,68 dollar AS per barrel, sementara West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di 113,25 dollar AS per barrel.

Kenaikan ini memperpanjang reli harga energi yang terjadi sejak akhir Februari.

Lonjakan harga energi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Ibrahim mengatakan jika konflik terus berlanjut dan pasokan energi global terganggu, harga minyak berpotensi meningkat lebih tinggi lagi.

“Bahkan saat ini di 117 dollar AS crude oil dan brand crude oil. Banyak analis yang mengatakan kemungkinan besar harga minyak mentah ini akan mencapai level 200 dollar AS per barrel. Apabila dalam jangka waktu satu bulan ini belum ada penyelesaian tentang krisis di Timur Tengah,” beber Ibrahim.

Selain faktor geopolitik, kondisi geografis Iran juga dinilai dapat memperpanjang konflik militer di kawasan tersebut.

Wilayah Iran yang didominasi pegunungan dinilai akan menyulitkan operasi militer darat jika terjadi perang terbuka antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Ibrahim menilai pengalaman konflik militer di masa lalu seperti Perang Korea dan Perang Vietnam menunjukkan bahwa perang darat dapat berlangsung lama dan memberikan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global.

Lonjakan harga energi global juga dinilai berpotensi memicu efek berantai terhadap perekonomian dunia.

Kenaikan harga minyak dan gas biasanya akan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri, mendorong inflasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Ia mengingatkan lonjakan harga minyak pernah memicu krisis ekonomi global pada masa lalu, salah satunya setelah konflik militer di Timur Tengah pada tahun 2008.

Selain faktor eksternal, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh sejumlah sentimen domestik yang turut menambah tekanan di pasar keuangan.

Pemerintah sebelumnya menyatakan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) domestik masih dapat dijaga stabil selama harga minyak dunia berada di kisaran 92 dollar AS per barrel.

Namun dengan harga minyak yang kini telah melampaui 100 dollar AS per barrel, tekanan terhadap anggaran negara berpotensi meningkat.

Ibrahim menilai lonjakan harga energi dapat memperbesar beban subsidi pemerintah dan meningkatkan risiko pelebaran defisit anggaran.

Ia memperkirakan defisit anggaran berpotensi mencapai sekitar 3,6 persen jika harga minyak dunia bertahan di level tinggi dalam waktu yang cukup lama.

Selain itu, dinamika politik dan kebijakan domestik juga turut mempengaruhi sentimen pasar.

Pertemuan antara presiden dengan sejumlah ulama yang membahas berbagai isu geopolitik, termasuk sikap Indonesia terhadap konflik Palestina, turut menjadi perhatian investor.

(redaksi)

Berita Terbaru