Minut, VivaSulut — Fenomena Harvest Moon, ketika bulan tampak cembung berwarna oranye pekat mulai menghiasi langit malam di wilayah Minahasa Utara dan sekitarnya sejak Senin (28/9/2026) malam.
Pantauan VivaSulut, bulan tampak mencolok sesaat setelah terbit di ufuk timur.
Warna jingga kemerahan terlihat cukup pekat ketika posisi Bulan masih rendah dan dekat dengan garis cakrawala.
Secara ilmiah, perubahan warna tersebut berkaitan dengan posisi Bulan yang masih rendah di langit.
Ketika berada dekat horizon, cahaya Bulan harus melewati jalur atmosfer Bumi yang lebih panjang sebelum mencapai mata pengamat.
NASA menjelaskan, kondisi tersebut menyebabkan bulan yang berada dekat horizon cenderung terlihat lebih kuning atau oranye dibandingkan ketika berada lebih tinggi di langit.
Fenomena hamburan cahaya di atmosfer membuat cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek, seperti biru, lebih mudah tersebar, sementara warna dengan panjang gelombang lebih panjang seperti kuning, jingga dan merah lebih dominan sampai ke mata pengamat.
Warna yang terlihat juga dapat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, termasuk keberadaan partikel atau aerosol di udara.
Namun, warna oranye yang tampak pada Bulan tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya fenomena astronomi khusus seperti gerhana Bulan.
Berdasarkan data astronomi untuk wilayah Manado dan sekitarnya, pada 28 September 2026 bulan berada dalam fase cembung menurun atau Waning Gibbous dengan tingkat pencahayaan sekitar 97 persen.
Pada 29 September, fase tersebut masih berlangsung dengan iluminasi sekitar 92–94 persen.
Fase bulan ini terjadi setelah bulan melewati fase purnama Harvest Moon.
Seiring waktu, posisi bulan akan semakin tinggi di langit sehingga warna jingga yang terlihat saat dekat ufuk secara bertahap dapat berubah menjadi kuning lebih terang hingga tampak putih kekuningan seperti biasanya.
Pantauan dari wilayah Minahasa Utara pada Senin malam menunjukkan Bulan terlihat sangat kontras di tengah kondisi langit yang relatif cerah.
Pemandangan tersebut turut menarik perhatian warga. Brenda Kaparang, warga yang menyaksikan fenomena itu, mengatakan warna Bulan terlihat berbeda.
“Bulannya sangat indah, lebih oranye dibandingkan biasanya, terutama ketika baru muncul,” ujar warga Matungkas, Selasa (29/9/2026).
Fenomena serupa masih dapat diamati dalam beberapa malam berikutnya, meski waktu terbit Bulan akan semakin bergeser dan bentuk serta tingkat pencahayaannya perlahan berubah.
(Tata)











