Mahasiswa Unsrat Kembangkan Spray Hydrogel dari Limbah Sabut Kelapa dan Daun Kersen untuk Ulkus Diabetikum

Berita Utama, Manado1104 Dilihat

Manado, VivaSulut – Mahasiswa Program Studi Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, mengembangkan inovasi sediaan spray hydrogel berbasis nanoselulosa dari limbah sabut kelapa muda dan ekstrak daun kersen untuk mendukung terapi ulkus diabetikum.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan penelitian berjudul “Inovasi Sistem Penghantar Spray Hydrogel Berbasis Nanoselulosa Limbah Sabut Kelapa Muda dan Ekstrak Daun Kersen sebagai Terapi Aplikatif Ulkus Diabetikum”.

Tim penelitian diketuai Rafael Lanipi, bersama Andini Khoiriyah, Haliza Anggraini Wonggo, Elisabeth Debora Pintaria Sinaga, dan Theophilus Poniton Daniel Halomoan Nainggolan. Penelitian ini didampingi dosen Defny Silvia Wewengkang, SPIK., M.Sc., Ph.D.

Rafael menjelaskan, penelitian tersebut berangkat dari persoalan ulkus diabetikum, yakni luka yang dapat muncul sebagai salah satu komplikasi diabetes melitus dan cenderung mengalami proses penyembuhan lebih lambat.

Melalui penelitian ini, tim mengembangkan sediaan berbentuk cairan spray hydrogel yang mengombinasikan ekstrak daun kersen dengan nanoselulosa yang dihasilkan dari limbah sabut kelapa muda.

Dengan bentuk spray, sediaan tersebut dirancang agar dapat diaplikasikan dengan cara disemprotkan pada permukaan luka, sehingga menawarkan alternatif metode penggunaan sediaan untuk area luka yang membutuhkan penanganan.

“Kami ingin mengubah limbah sabut kelapa muda menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah melalui pengembangan nanoselulosa, kemudian mengombinasikannya dengan ekstrak daun kersen dalam bentuk spray hydrogel untuk mendukung terapi ulkus diabetikum,” ujar Rafael.

Menurutnya, penelitian ini tidak hanya melihat potensi bahan alam dalam pengembangan sediaan untuk luka, tetapi juga mengangkat pemanfaatan limbah lokal sebagai bahan bernilai guna.

Sabut kelapa muda yang selama ini berpotensi menjadi limbah diolah menjadi nanoselulosa. Sementara daun kersen (Muntingia calabura L.) dimanfaatkan sebagai sumber bahan alam yang dikembangkan dalam formulasi spray hydrogel.

Dosen Pendamping, Defny Silvia Wewengkang, mengatakan penelitian tersebut menjadi salah satu bentuk kreativitas mahasiswa dalam mengintegrasikan potensi bahan alam, pemanfaatan limbah dan teknologi sediaan farmasi.

“Penelitian ini memiliki nilai inovasi karena menggabungkan pemanfaatan limbah lokal dengan teknologi nanoselulosa dan sistem penghantaran spray hydrogel. Namun, seluruh potensinya tetap harus dibuktikan melalui tahapan penelitian dan data yang valid,” ungkap Defny.

Ia berharap penelitian tersebut dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi farmasi yang memiliki dasar ilmiah kuat dan berpotensi dikembangkan lebih lanjut.

Selain aspek kesehatan, penelitian ini juga mengangkat isu lingkungan melalui pemanfaatan limbah sabut kelapa muda. Konsep tersebut sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs poin 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDGs poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

Tim berharap penelitian yang mendapat dukungan pendanaan Kemdiktisaintek tersebut dapat terus dikembangkan melalui tahapan penelitian yang sistematis.

“Kami berharap penelitian ini tidak berhenti sebagai penelitian mahasiswa, tetapi dapat terus dikembangkan hingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Rafael.

(Finda Muhtar)