Jakarta, VivaSulut – Kinerja bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang 2026.
Sejumlah bank mencatatkan pertumbuhan laba bersih dua digit pada paruh pertama tahun ini.
Dilansir dari kompas.com, pertumbuhan tersebut ditopang oleh ekspansi kredit, peningkatan dana murah, pendapatan berbasis komisi, hingga perbaikan kualitas aset.
Kelompok Himbara terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), serta PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Dari lima bank tersebut, BRI mencatatkan laba bersih terbesar pada semester I 2026, yakni Rp 31,2 triliun.
Bank Mandiri berada di posisi berikutnya dengan laba Rp 30,4 triliun, disusul BNI sebesar Rp 10,8 triliun dan BSI Rp 4,16 triliun.
Sementara itu, BTN mencatatkan laba bersih konsolidasi Rp 2,51 triliun hingga Juli 2026.
Angka BTN tersebut mencakup kinerja bersama entitas anak, Bank Syariah Nasional (BSN).
1. BRI
BRI menjadi bank Himbara dengan perolehan laba bersih terbesar.
Pada semester I 2026, laba BRI mencapai Rp 31,2 triliun atau tumbuh 17,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih BRI tercatat Rp 26,53 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, peningkatan laba tersebut merupakan hasil kombinasi pertumbuhan bisnis dan perbaikan fundamental perseroan.
“Pada akhirnya, kombinasi pertumbuhan bisnis dan perbaikan fundamental tersebut menghasilkan laba bersih BRI Rp 31,2 triliun tumbuh sebesar 17,5 persen secara year-on-year,” kata Hery dalam konferensi pers paparan kinerja kuartal II 2026 di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Dari sisi intermediasi, kredit BRI tumbuh 16,2 persen yoy menjadi Rp 1.646 triliun.
Kredit UMKM berkontribusi 75,1 persen dari total penyaluran kredit, dengan pertumbuhan sebesar 8,6 persen. Total aset BRI mencapai Rp 2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen yoy.
Sementara dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7 persen menjadi Rp 1.581 triliun.
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) juga meningkat 9,9 persen yoy menjadi Rp 80,5 triliun.
Adapun pre-provisioned operating profit (PPOP) tumbuh 12,8 persen menjadi Rp 65,7 triliun.
Kualitas aset BRI turut membaik. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun dari 3,23 persen menjadi 3,15 persen.
2. Bank Mandiri
Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba paling tinggi di antara bank konvensional Himbara yang berada di posisi teratas.
Laba bersih Bank Mandiri pada semester I 2026 mencapai Rp 30,4 triliun, naik 24,2 persen yoy dari Rp 24,5 triliun pada semester I 2025.
Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, pertumbuhan bisnis menjadi salah satu faktor utama yang menopang peningkatan laba perseroan.
“Apa yang menjadi faktor pendorong? Yang pertama tentunya adalah dari pertumbuhan dari bisnis Bank Mandiri itu sendiri. Dengan pertumbuhan ini tentunya menghasilkan revenue ataupun NII yang cukup baik,” ujar Novita dalam konferensi pers virtual, Kamis (23/7/2026).
Kredit Bank Mandiri tumbuh 19,9 persen yoy menjadi Rp 1.592 triliun.
Pertumbuhan kredit tersebut didukung oleh peningkatan DPK sebesar 17,1 persen yoy.
NII Bank Mandiri tercatat tumbuh 8 persen.
Selain pendapatan bunga, pendapatan berbasis komisi juga memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan.
Recurring fee dari layanan Livin’ by Mandiri tumbuh 46 persen yoy, sedangkan fee dari platform Kopra by Mandiri meningkat 22,8 persen.
NPL Bank Mandiri berada di level 0,98 persen dengan coverage ratio 242 persen.
Cost of credit tercatat 0,52 persen.
3. BNI
BNI menempati posisi ketiga dengan laba bersih Rp 10,8 triliun pada semester I 2026.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, perseroan mengarahkan pertumbuhan bisnis dengan tetap menjaga kualitas aset dan memperkuat bisnis inti.
“Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).
Penyaluran kredit BNI mencapai Rp 968,5 triliun atau tumbuh 24,4 persen yoy.
Pertumbuhan tersebut berasal dari sejumlah segmen, mulai dari korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer.
Pendapatan bunga BNI meningkat 14,92 persen yoy menjadi Rp 38,63 triliun.
Sementara NII tumbuh 14,19 persen menjadi Rp 22,28 triliun.
Pendapatan komisi juga meningkat 13,51 persen menjadi Rp 5,50 triliun.
Dari sisi pendanaan, CASA BNI tumbuh 11,2 persen dengan rasio CASA mencapai 65,4 persen.
Cost of fund DPK turun menjadi 2,56 persen dari 2,78 persen. Perbaikan juga terlihat pada kualitas aset.
Loan at Risk (LAR) turun dari 11 persen menjadi 8,1 persen, sedangkan NPL berada di level 1,9 persen. Lihat Foto ilustrasi bank(magnific)
4. BSI
Sementara itu, BSI membukukan laba bersih Rp 4,16 triliun pada semester I 2026.
Perolehan tersebut tumbuh 11,08 persen yoy.
Pertumbuhan laba BSI ditopang oleh ekspansi pembiayaan, peningkatan DPK, serta pertumbuhan pendapatan berbasis komisi.
Total aset BSI mencapai sekitar Rp 464,5 triliun atau tumbuh 15,96 persen yoy. DPK juga meningkat 21,81 persen menjadi Rp 393 triliun.
Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income menjadi salah satu penopang kinerja BSI.
Pendapatan tersebut tumbuh 57,88 persen menjadi Rp 1,69 triliun.
Bisnis emas turut menunjukkan pertumbuhan signifikan.
Outstanding emas BSI meningkat 80,52 persen menjadi Rp 30,5 triliun dengan jumlah nasabah lebih dari 1,2 juta.
5. BTN
Selanjutnya BTN mencatatkan laba bersih konsolidasi Rp 2,51 triliun hingga Juli 2026.
Laba tersebut tumbuh 39,79 persen yoy dibandingkan Rp 1,80 triliun pada Juli 2025.
Kinerja tersebut merupakan laba konsolidasi BTN bersama entitas anak, Bank Syariah Nasional (BSN).
Pertumbuhan laba didorong oleh penguatan fungsi intermediasi serta perbaikan pendapatan bunga bersih. NII BTN hingga Juli 2026 mencapai Rp 9,70 triliun, naik 5,23 persen yoy.
Pada saat yang sama, beban bunga turun 12,08 persen menjadi Rp 9,45 triliun dari Rp 10,75 triliun.
Perbaikan tersebut turut mendorong laba operasional konsolidasi menjadi Rp 3,24 triliun atau tumbuh 43,12 persen yoy.
Dari sisi kredit, penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi BTN mencapai Rp 421,66 triliun atau tumbuh 11,88 persen yoy.
Sementara DPK mencapai Rp 455,27 triliun, meningkat 13,58 persen yoy.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan, pertumbuhan tersebut merupakan hasil transformasi perseroan yang telah dilakukan secara konsisten.
“Bagi BTN, pertumbuhan bukan hanya tentang bagaimana kami memperkuat bisnis, tetapi juga bagaimana kehadiran BTN dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan lingkungan. Semakin kuat BTN bertumbuh, semakin besar pula manfaat yang ingin kami hadirkan bagi masyarakat, terutama dalam ekosistem perumahan yang menjadi DNA BTN,” ujar Nixon dalam keterangan tertulis, Jakarta, Senin (24/8/2026).
(redaksi)









