Tanggerang, VivaSulut – Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) menyiapkan dua proyek prioritas investasi pada 2026 dengan total nilai mencapai Rp125 miliar.
Tak hanya mengejar masuknya modal, kedua proyek tersebut dirancang untuk membuka lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dan memperbesar keterlibatan masyarakat dalam aktivitas ekonomi.
Dua proyek tersebut yakni Eco Resort and Homestay Likupang senilai Rp45 miliar dan Pabrik Kelapa Terpadu “Minut Coconut Valley” di Kauditan dengan nilai investasi Rp80 miliar.
Bupati Minahasa Utara sekaligus Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), Joune Ganda, memaparkan kedua proyek tersebut dalam Workshop “Building Local Development Strategies to Support Investment” pada rangkaian APKASI Otonomi Expo (AOE) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang.
Untuk proyek pertama, Eco Resort and Homestay Likupang diproyeksikan mendukung pengembangan Likupang sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) sekaligus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.
Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp45 miliar tersebut ditargetkan membuka hingga 500 lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Tak berhenti pada penciptaan lapangan kerja, proyek ini juga disiapkan dengan program peningkatan kapasitas masyarakat lokal. Sebanyak 200 warga akan mendapat pelatihan untuk menjadi pemandu wisata, chef dan barista profesional.
Di hadapan para investor, perbankan dan pimpinan kepala daerah, Bupati Joune Ganda mengatakan Likupang memiliki posisi strategis dalam pengembangan pariwisata Minahasa Utara karena telah ditetapkan pemerintah pusat sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas.
“Pertama, yaitu eco resort dan homestay di Likupang. Kita tahu Likupang adalah salah satu pariwisata prioritas dari Pemerintah Pusat,” ujarnya.
Menurutnya, pengembangan fasilitas pariwisata harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas masyarakat lokal sehingga manfaat investasi tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengambil bagian dalam ekosistem pariwisata.
Sementara proyek kedua adalah Pabrik Kelapa Terpadu “Minut Coconut Valley” di Kauditan dengan nilai investasi sekitar Rp80 miliar.
Proyek ini dirancang untuk mengolah kelapa lokal menjadi berbagai produk bernilai tambah yang siap menembus pasar ekspor, khususnya Jepang dan Korea Selatan.
Joune sebelumnya menyebut Minahasa Utara merupakan salah satu daerah dengan potensi produksi kelapa terbesar di Sulawesi Utara.
Karena itu, pembangunan industri pengolahan dinilai strategis untuk mengubah pola ekonomi masyarakat dari sekadar menjual bahan mentah menjadi bagian dari rantai nilai produk ekspor.
“Dan yang kedua adalah pabrik pengolahan kelapa, pabrik kelapa. Dan itu adalah salah satu prioritas di wilayah kita. Saya pikir itu bernilai sekitar Rp80 miliar,” katanya.
Minut Coconut Valley ditargetkan melibatkan sekitar 1.000 petani kelapa. Kehadiran industri terpadu tersebut diproyeksikan mampu mendorong kenaikan harga kelapa hingga sekitar 30 persen.
Dengan pola tersebut, petani tidak hanya berada pada posisi sebagai pemasok bahan mentah, tetapi ikut masuk dalam rantai nilai komoditas hingga produk yang memiliki pasar ekspor.
Doktor jebolan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ini menilai model tersebut penting untuk memastikan investasi memberikan dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan Minahasa Utara.
Potensi kelapa Minut sendiri telah mulai menarik perhatian pelaku usaha. Joune menyebut perusahaan asal China, Cotti Coffee, telah membangun pabrik di Minahasa Utara dan melihat peluang pengembangan produk berbasis kelapa, termasuk coconut coffee.
“Sekarang ini ada perusahaan dari China yang sudah membangun pabrik di sana, yaitu Cotti Coffee. Cotti Coffee ini adalah perusahaan kopi nomor tiga terbesar di dunia, dan mereka membangun di Kabupaten Minahasa Utara karena sekarang lagi tren penjualan yaitu coconut coffee,” ujar Joune.
Selain kelapa, Joune juga membawa potensi pertanian, rempah-rempah, perikanan dan pariwisata Minut dalam forum investasi AOE 2026.
Ia menyebut posisi Minahasa Utara yang berada di antara Kota Manado dan Kota Bitung, serta keberadaan Bandara Sam Ratulangi di wilayah Minut, menjadi keunggulan tersendiri untuk mendukung konektivitas investasi dan pariwisata.
Di sektor pariwisata, selain Eco Resort and Homestay Likupang, Minut juga tengah memasuki fase baru dengan hadirnya investasi hotel dan resort berskala internasional.
Joune menyebut Hotel Marriott akan segera melakukan grand opening sebagai hotel bintang lima pertama di Minahasa Utara. Selanjutnya, resort internasional Club Med direncanakan hadir di Minut, sementara pembangunan Hotel Sheraton juga sedang diusulkan.
Bagi Joune, dua proyek prioritas senilai Rp125 miliar tersebut menunjukkan arah pembangunan investasi Minut yang tidak hanya berorientasi pada besarnya nilai modal, tetapi juga dampak yang dihasilkan.
“Dengan proyek tersebut, saya pikir jika ada investor atau proposal dari investor, kami menganggap itu sebagai prioritas kami saat ini,” tutupnya.
(Finda Muhtar)









