Waspada, Cincin Api Pasifik Bergejolak Picu Rentetan Gempa

Nasional, Ragam64 Dilihat

Jakarta, VivaSulut.com – Peta aktivitas kegempaan global sepanjang tujuh hari terakhir menunjukkan pergerakan tektonik yang sangat aktif dan bergejolak.

Sabuk Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) kembali menjadi pusat perhatian dunia setelah rentetan gempa bermagnitudo besar mengguncang sejumlah negara secara bergantian sejak akhir Juni hingga awal Juli ini.

Menanggapi fenomena geologi yang dinamis ini, dilansir dari kompas.com, Dr. Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), mengingatkan pentingnya memperkuat pertahanan diri di wilayah-wilayah rawan.

Menurutnya, struktur tempat tinggal dan kesiapan mental saat menghadapi guncangan adalah kunci utama keselamatan.

“Kesiapsiagaan harus menjadi prioritas utama masyarakat yang tinggal di zona aktif tersebut. Mitigasi efektif dimulai dari memastikan kekuatan struktur bangunan sesuai standar ketahanan gempa untuk meminimalisir risiko keruntuhan, serta membiasakan prosedur keselamatan mandiri seperti berlindung di bawah furnitur kokoh saat guncangan terjadi tanpa terburu-buru mengevakuasi diri keluar gedung,” ujar Daryono dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026).

Lantas, mengapa dampak rentetan gempa dunia dalam sepekan terakhir ini bisa berbeda-beda?

Ada wilayah yang mengalami kerusakan sangat parah, namun ada pula yang tetap aman meski energinya sama besar.

Berikut adalah penjelasannya dari sisi sains penjelajahan bumi.

Dampak Mematikan Gempa Kembar di Venezuela

Peristiwa yang paling destruktif dalam sepekan terakhir tercatat terjadi pada 25 Juni 2026 di Yumare, Venezuela.

Wilayah ini dihantam oleh fenomena langka yang disebut gempa ganda atau doublet, di mana tanah diguncang dua kali berturut-turut dengan kekuatan yang sangat besar, yaitu M7,2 dan M7,5 hanya dalam kurun waktu kurang dari 40 detik.

Gempa kembar ini dipicu oleh aktivitas sesar geser aktif, sebuah mekanisme di mana lempeng bumi saling bergesekan secara mendatar. Karakteristik patahan ini berada di kedalaman yang dangkal, sehingga menghasilkan getaran tanah yang sangat kuat di permukaan.

Akibatnya, ribuan bangunan runtuh secara masif dan merenggut ribuan korban jiwa.

Mengapa Gempa Jepang dan Filipina Jauh Lebih Aman?

Berbeda drastis dengan Venezuela, wilayah Asia Timur justru mengalami skenario yang jauh lebih aman.

Jepang berturut-turut diguncang dua gempa signifikan, yakni bermagnitudo M6,9 di Kuji pada 25 Juni 2026 dan gempa M6,0 di Iwate pada 1 Juli 2026 kemarin.

“Kedua gempa di Jepang ini bersumber dari zona megathrust, yaitu area subduksi tempat menunjamnya lempeng samudra ke bawah lempeng benua,” kata Daryono.

Walau energinya besar, pusat gempa (hiposenter) berada sangat dalam di bawah laut.

“Sifat hiposenter yang dalam ini membuat energi guncangan melemah sebelum mencapai daratan, sehingga tidak sampai menimbulkan kerusakan bangunan ataupun memicu tsunami,” paparnya.

Kondisi serupa dialami oleh Mindanao, Filipina pada 26 Juni 2026. Wilayah tersebut diguncang gempa kuat M6,5 yang masuk dalam kategori gempa intra slab artinya patahan terjadi di dalam lempeng batuan itu sendiri.

“Guncangan lokal yang mendadak sempat memicu kepanikan warga sekitar, namun karena posisi hiposenternya yang dalam, getaran tersebut tidak membawa potensi tsunami maupun kerusakan infrastruktur,” ungkap Daryono.

Getaran Jarak Jauh dari Afghanistan Gejolak seismik global belakangan ini ditutup oleh gempa berkekuatan M6,1 di Jurm, Afghanistan, pada 27 Juni 2026.

Energi gempa ini lahir dari perubahan atau deformasi batuan kerak bumi yang terletak cukup dalam.

Meski pusat gempanya berada di area pegunungan yang relatif sepi penduduk, sifat gelombang gempa dari kedalaman bumi mampu merambat sangat jauh.

“Alhasil, getarannya menjalar secara luas hingga dirasakan dengan intensitas yang kuat di kota Kabul, bahkan sampai melintasi perbatasan hingga ke wilayah Pakistan,” terang Daryono.

Menakar Kunci Mitigasi yang Efektif

Rangkaian peristiwa dari berbagai belahan dunia ini menegaskan satu hal penting: bahaya sebuah gempa bumi tidak hanya ditentukan dari seberapa besar angka magnitudonya.

Dampak nyata di permukaan tanah sangat bergantung pada kedalaman pusat gempa serta kondisi geologi lokal di wilayah masing-masing.

Oleh karena itu, bagi masyarakat yang tinggal berdampingan dengan risiko geologi ini, termasuk di Indonesia, edukasi kegempaan harus mulai diintegrasikan ke dalam perilaku sehari-hari.

Mulai dari menyiapkan tas siaga bencana yang berisi logistik darurat 3 hari, hingga memahami jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal.

“Masyarakat pesisir perlu ekstra waspada terhadap tanda alam tsunami, sehingga evakuasi mandiri ke tempat tinggi dapat segera dilakukan tanpa menunggu peringatan dini resmi,” kata Daryono mengingatkan.

Menurut Daryono, dengan mengintegrasikan edukasi kegempaan ke dalam perilaku sehari-hari, seperti menyiapkan tas siaga bencana dan memahami jalur evakuasi, risiko fatalitas dapat ditekan secara signifikan meski kita hidup berdampingan dengan risiko geologi yang dinamis dan tidak terduga.

(redaksi)