48 Pelajar Minsel Ikuti Yaki Youth Camp 2026, Siap Jadi Duta Penyelamat Yaki Sulawesi

Minsel, VivaSulut – Sebanyak 48 pelajar SMA, SMK, dan MA dari berbagai sekolah di Kabupaten Minahasa Selatan mengikuti Yaki Youth Camp 2026.

Event Yaki Youth Camp 2026 merupakan program edukasi konservasi yang bertujuan mencetak generasi muda peduli lingkungan sekaligus duta pelestarian yaki, satwa endemik Sulawesi Utara yang kini terancam punah.

Program ini merupakan bagian dari Kampanye Kebanggaan Yaki Kabupaten Minahasa Selatan yang digagas melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara, serta program Selamatkan Yaki untuk memperkuat upaya perlindungan yaki dan habitatnya.

Yaki Youth Camp 2026 berlangsung selama empat hari, 13–16 Februari 2026, dengan rangkaian aktivitas edukatif dan eksplorasi lapangan di sejumlah lokasi konservasi di Sulawesi Utara.

Peserta memulai kegiatan dengan pengamatan satwa liar di Taman Wisata Alam Batuputih, yang menjadi habitat alami Yaki.

Di kawasan ini, para pelajar belajar mengenali perilaku yaki serta pentingnya menjaga ekosistem hutan sebagai rumah bagi satwa endemik tersebut.

Selanjutnya, para peserta mengunjungi Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki di Bitung untuk melihat secara langsung berbagai satwa hasil penyelamatan dari kasus perburuan, perdagangan ilegal, dan konflik manusia dengan satwa liar.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup di Pusat Budaya Sulawesi Pa’ Dior, Tompaso, Minahasa, melalui sesi refleksi, diskusi, serta penguatan materi konservasi.

Program Manager Selamatkan Yaki, Reyni Palohoen, mengatakan kegiatan ini dirancang agar para pelajar tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki empati terhadap satwa dan lingkungan.

“Sebagai duta, mereka harus siap dari segi pengetahuan, empati, dan karakter. Karena itu, kegiatan selama empat hari tiga malam ini dirancang secara dua arah, dengan komposisi 30 persen materi dan 70 persen diskusi agar peserta lebih aktif dan terlibat,” jelas Reyni.

Kepala Seksi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Utara, Hendrik Rundengan, menilai program ini menjadi langkah penting dalam menumbuhkan kesadaran konservasi di kalangan generasi muda.

“Kalian melihat langsung yaki, mengenal manfaat dan keunikannya. BKSDA Sulawesi Utara bangga dengan adik-adik yang terlibat dalam kegiatan konservasi. Jika menemukan perburuan, pemeliharaan yaki, atau tindakan ilegal lainnya, silakan melaporkannya melalui media sosial resmi BKSDA,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara, Arie Toloh.

Menurutnya, program ini menjadi pengalaman berharga yang tidak semua pelajar bisa dapatkan.

“Ini kesempatan berharga yang tidak semua siswa dapatkan. Saya bangga melihat semangat kalian. Meski sempat ada peserta yang kurang sehat, panitia bergerak cepat melakukan penanganan sehingga kegiatan tetap berjalan dengan baik,” katanya saat penutupan kegiatan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Wilia Lintang dari SMA Negeri 1 Amurang mengaku terkesan karena bisa melihat langsung yaki di habitat alaminya.

“Banyak materi dan kegiatan seru. Saya mendapat teman baru, belajar pentingnya melindungi yaki, dan termotivasi menjadi pribadi yang lebih bermanfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Jeferson Hart Koyong dari SMK Rembang Amurang Barat mengaku kegiatan tersebut juga meningkatkan rasa percaya dirinya.

“Awalnya saya malu, tapi lama-lama jadi lebih percaya diri karena teman-temannya asyik. Senang sekali bisa ikut kegiatan ini,” katanya.

Ke depan, para peserta akan menjalani program lanjutan sebagai Duta Yaki Minahasa Selatan 2026 untuk menyuarakan pelestarian yaki dan menjaga kelestarian alam di daerahnya.

Program Yaki Youth Camp 2026 juga mendapat dukungan dari GIVSKUD ZOOTOPIA dan Mandai Nature sebagai bagian dari komitmen internasional dalam melindungi spesies yang terancam punah serta memperkuat peran generasi muda dalam konservasi satwa liar.

(***/Finda)

Berita Terbaru