Minut, VivaSulut – Bupati Minahasa Utara Joune Ganda terus mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Tak sekadar meluncurkan program baru, ia menegaskan setiap terobosan harus dijalankan secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas pelayanan publik, sekaligus memperkuat daya saing daerah.
Komitmen tersebut ditunjukkan Joune Ganda saat meluncurkan delapan inovasi daerah yang dirangkaikan dengan kegiatan Sosialisasi Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Atrium Kantor Bupati Minahasa Utara, Senin (2/11/2026).
Delapan inovasi yang diperkenalkan merupakan hasil proyek perubahan peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXIII. Program-program tersebut dirancang untuk menjawab beragam kebutuhan daerah, mulai dari peningkatan kompetensi aparatur, ketahanan pangan, pengembangan pariwisata, hingga digitalisasi pelayanan pemerintahan.
Joune menekankan bahwa keberhasilan inovasi tidak diukur dari banyaknya program yang diluncurkan, melainkan dari konsistensi pelaksanaan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Ia meminta seluruh perangkat daerah memastikan inovasi yang telah dihasilkan benar-benar diterapkan, dikembangkan, serta dievaluasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman.
“Saya berharap inovasi yang dihasilkan ini bukan hanya sekadar memenuhi persyaratan sebagai peserta PKN. Inovasi ini harus menjadi sebuah legacy, harus dilaksanakan dan terus dikembangkan. Karena itu, perlu dilakukan evaluasi terhadap seluruh program inovasi yang sudah ada, termasuk inovasi dari peserta sebelumnya,” tegas Joune.
Delapan Inovasi untuk Menjawab Kebutuhan Daerah

Delapan inovasi yang diluncurkan meliputi SIPERINTIS MINUT, SIKLABAT, Dewi Minut Memikat, SIGAP BANGUN MINUT, AKSI KLABAT, Dua Hasil Satu Lahan, SIFORSA MINUT, dan KILAT DESA.
Masing-masing memiliki fokus berbeda, tetapi diarahkan pada satu tujuan besar, yakni menghadirkan pemerintahan yang lebih efektif, adaptif, dan berorientasi pada hasil.
SIKLABAT atau Sistem Kompetensi Pelatihan dan Pengembangan Pembelajaran ASN Terintegrasi dikembangkan sebagai platform pembelajaran digital bagi aparatur. Sistem ini memungkinkan ASN mengakses materi pelatihan secara fleksibel sekaligus mengintegrasikan data pembelajaran dengan sistem kepegawaian BKPSDM.
Sementara itu, SIPERINTIS MINUT mengusung pendekatan pentahelix untuk menangani wilayah rentan pangan melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, komunitas, masyarakat, dan media. Program ini juga membuka ruang pemberdayaan masyarakat melalui dukungan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Pada sektor pariwisata, Dewi Minut Memikat diarahkan untuk memperkuat pengelolaan desa wisata melalui pengembangan kelembagaan, produk wisata, sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi.
Di bidang pelayanan perizinan, SIGAP BANGUN MINUT dirancang untuk meningkatkan tata kelola persetujuan bangunan gedung sekaligus mendukung optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Adapun AKSI KLABAT berfokus pada keterbukaan informasi melalui pengembangan portal data dan pelayanan publik berbasis teknologi. Sementara Dua Hasil Satu Lahan mendorong integrasi tanaman kelapa dan jagung untuk mengoptimalkan produktivitas lahan, meningkatkan pendapatan petani, serta memperkuat ketahanan pangan tanpa mengesampingkan kelapa sebagai komoditas unggulan daerah.
Dua inovasi lainnya juga menyasar persoalan mendasar dalam tata kelola pemerintahan dan lingkungan. SIFORSA MINUT mendorong pengelolaan sampah melalui pemilahan sejak dari sumber, sedangkan KILAT DESA diarahkan untuk memperkuat evaluasi, pengawasan, dan tata kelola pemerintahan yang bersih.
Ragam program tersebut memperlihatkan upaya mendorong pembaruan birokrasi agar tidak hanya berfokus pada administrasi, tetapi juga mampu menghasilkan solusi konkret bagi kebutuhan masyarakat.
Targetkan ASN Minut Mampu Bersaing di Tingkat Nasional

Di hadapan jajaran pemerintah daerah, Joune juga menantang peserta PKN untuk meningkatkan kualitas proyek perubahan dan membawa nama Minahasa Utara ke tingkat nasional.
Menurutnya, aparatur daerah tidak boleh berpuas diri hanya dengan mengikuti kompetisi atau menyelesaikan tahapan pendidikan. Setiap peserta harus memiliki target prestasi yang jelas dan menghasilkan karya berkualitas.
“Target kita minimal lima besar harus bisa masuk. Jangan berpikir bahwa kita hanya cukup berpartisipasi. Kita harus memiliki standar yang tinggi dan mampu bersaing. Kalau sudah berbicara tingkat nasional, maka hasil yang kita tampilkan juga harus benar-benar berkualitas,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan bagi ASN untuk membangun budaya kerja yang lebih kompetitif, inovatif, dan terbuka terhadap perubahan.
Joune menilai pengembangan kompetensi tidak bisa hanya mengandalkan program pemerintah. Setiap aparatur perlu memiliki kemauan untuk terus belajar, memperbarui pengetahuan, dan meningkatkan kemampuan sesuai tuntutan pekerjaan.
“Jangan mudah merasa cukup dengan kemampuan yang dimiliki sekarang. Kita harus terus belajar, meningkatkan kapasitas dan memperbarui cara berpikir. Semangat untuk maju dan berkembang harus dimulai dari diri sendiri. Itu merupakan tanggung jawab setiap ASN,” pesannya.
Ia meminta BKPSDM Minahasa Utara terus memperkuat program pengembangan sumber daya manusia agar peningkatan kompetensi aparatur berbanding lurus dengan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.
Pelayanan Birokrasi Jadi Kunci Menarik Investasi

Selain mendorong pembaruan birokrasi, Joune mengaitkan kualitas pelayanan pemerintahan dengan peluang investasi yang semakin terbuka di Minahasa Utara.
Ia menilai potensi daerah pada sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata perlu ditopang oleh sistem pelayanan yang cepat, transparan, terintegrasi, serta memberikan kepastian kepada masyarakat maupun pelaku usaha.
Joune mencontohkan pembangunan Hotel Shangri-La Manado yang baru-baru ini dihadirinya sebagai gambaran besarnya potensi investasi di kawasan tersebut.
Menurutnya, keputusan investor menanamkan modal dalam jumlah besar tidak diambil secara sembarangan. Berbagai aspek menjadi pertimbangan, mulai dari prospek ekonomi, dukungan infrastruktur, sumber daya manusia, hingga peluang pengembangan bisnis dalam jangka panjang.
Ia menyebut investasi tahap awal proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp1,4 triliun hingga Rp1,5 triliun. Bahkan, terdapat rencana pengembangan pembangunan hotel lainnya dengan nilai investasi yang juga besar.
“Artinya, investor yang datang bukan hanya melihat pasar lokal. Mereka melihat potensi dan prospek internasional yang dimiliki daerah ini. Mereka tentu memiliki perhitungan yang sangat matang sebelum memutuskan untuk menanamkan investasi dalam jumlah besar,” ungkapnya.
Bagi Joune, potensi investasi tersebut harus diimbangi dengan kesiapan pemerintah daerah dalam memberikan pelayanan yang profesional. Koordinasi antarorganisasi perangkat daerah menjadi salah satu faktor penting agar proses pelayanan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Potensi daerah kita sangat besar. Tetapi kalau pelayanan dari dinas-dinas terkait tidak sinkron, maka semuanya tidak akan berjalan dengan baik. Karena itu, inovasi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan kepastian dan kemudahan bagi investor,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan jajarannya agar tidak terpaku pada pola kerja lama. Perkembangan teknologi, kebutuhan masyarakat, dan dinamika dunia usaha menuntut pemerintah untuk terus menyesuaikan kebijakan serta meningkatkan kualitas pelayanan.
Program yang tidak lagi relevan perlu dievaluasi dan diperbarui sehingga birokrasi mampu mengantisipasi kebutuhan masa depan, bukan sekadar merespons persoalan yang sudah terjadi.
Inovasi Harus Berkelanjutan dan Berdampak Nyata

Melalui peluncuran delapan inovasi tersebut, Joune berharap jajaran Pemkab Minahasa Utara mampu membangun budaya kerja yang lebih produktif dan berorientasi pada hasil.
Ia meminta para peserta PKN memastikan proyek perubahan yang telah dirancang tidak berhenti setelah pendidikan selesai. Sebaliknya, program tersebut harus menjadi bagian dari sistem kerja perangkat daerah, disertai evaluasi untuk mengukur efektivitas dan manfaatnya.
“Jangan sampai inovasi hanya dibuat untuk kepentingan pendidikan dan setelah itu berhenti. Kita ingin inovasi ini benar-benar dijalankan, dievaluasi dan menjadi bagian dari keunggulan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara. Kita harus mampu menunjukkan bahwa ASN Minut memiliki kemampuan, daya pikir dan kualitas untuk bersaing di tingkat nasional,” tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Minahasa Utara, Herman Hendrik Mengko, menjelaskan bahwa delapan inovasi tersebut merupakan bagian dari proyek perubahan peserta PKN Tingkat II Angkatan XXIII.
Ia berharap dukungan pimpinan daerah dapat memastikan setiap terobosan berlanjut menjadi program yang memberikan manfaat bagi penyelenggaraan pemerintahan dan masyarakat.
Kegiatan tersebut turut dihadiri para asisten, staf ahli bupati, kepala organisasi perangkat daerah, kepala bagian, camat, serta Direktur RSUD Maria Walanda Maramis.
Dengan penguatan inovasi dan peningkatan kapasitas ASN, Pemkab Minahasa Utara diarahkan untuk membangun birokrasi yang semakin profesional, adaptif, dan responsif. Keberhasilan upaya ini diharapkan tercermin melalui pelayanan publik yang lebih baik, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta iklim investasi yang semakin mendukung kemajuan daerah.
(***/ADV)







