Tanggerang, VivaSulut – Rencana investasi yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara (Minut) mendapat respons positif dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), lembaga pembiayaan yang telah mendukung lebih dari 100 pemerintah daerah di Indonesia.
Respons tersebut disampaikan Public Infrastructure Finance PT SMI, Astri Gautama, dalam Workshop Sesi II bertajuk “Mobilising Funding and Financing to Deliver Local Investment” yang merupakan bagian dari rangkaian APKASI Otonomi Expo (AOE) 2026, Jumat (28/8/2026).
Dalam forum tersebut, Astri menyoroti paparan Bupati Minahasa Utara sekaligus Sekretaris Jenderal APKASI, Joune Ganda, mengenai sejumlah proyek prioritas yang tengah disiapkan Minut untuk mendorong investasi dan pembangunan daerah.
PT SMI merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan infrastruktur dan memiliki produk pinjaman daerah yang telah diakses lebih dari 100 pemerintah daerah.
Karena itu, pandangan Astri mengenai pentingnya kesiapan proyek dan pilihan pembiayaan menjadi relevan bagi Minahasa Utara yang tengah mendorong sejumlah proyek investasi.
Astri mengatakan salah satu tantangan pemerintah daerah saat ini adalah menyiapkan proyek secara matang sekaligus menentukan skema pembiayaan yang paling tepat.
“Persiapan proyek dan prioritisasi proyek itu masih menjadi tantangan di daerah-daerah,” ujar Astri.
Menurutnya, setiap proyek harus terlebih dahulu dilihat dari dampak sosial dan ekonominya. Proyek yang memberikan dampak besar dapat membutuhkan dukungan pembiayaan yang lebih kuat, sementara proyek yang membutuhkan keterlibatan swasta dalam operasionalnya dapat menggunakan skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
Astri kemudian mengaitkan pentingnya pembiayaan infrastruktur dengan rencana pembangunan yang dipaparkan Joune Ganda untuk Minahasa Utara.
Ia menilai pembangunan infrastruktur menjadi bagian penting untuk mendukung masuknya investasi yang lebih besar, termasuk rencana pembangunan hotel dan resort berskala internasional di Minut.
“Jangan khawatir atau jangan takut untuk meminjam, karena kita bisa melihat bahwa meminjam itu juga salah satu langkah untuk investasi daerah,” kata Astri.
“Dengan infrastruktur yang lebih bagus, tentu tadi Pak Bupati Minahasa Utara ingin membangun Sheraton, Club Med, dan segala macam. Kalau infrastrukturnya, WTP-nya baik, jalannya bagus, ini kan kemudian itu adalah sebetulnya satu langkah untuk investasi yang jauh lebih besar ke depannya,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan arah pembangunan yang disampaikan Joune Ganda.
Dalam Workshop Sesi I bertajuk “Building Local Development Strategies to Support Investment”, Joune memaparkan proyek-proyek yang menjadi prioritas investasi Minahasa Utara.
Salah satunya adalah pengembangan eco resort dan homestay di Likupang, yang merupakan salah satu destinasi pariwisata prioritas pemerintah pusat. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp45 miliar.
Proyek prioritas berikutnya adalah pembangunan pabrik pengolahan kelapa dengan estimasi kebutuhan investasi sekitar Rp80 miliar.
Dengan demikian, dua proyek prioritas yang dipaparkan Joune memiliki estimasi kebutuhan investasi sekitar Rp125 miliar.
Joune menegaskan kedua proyek tersebut menjadi prioritas pemerintah daerah dan terbuka untuk ditawarkan kepada investor.
“Dengan proyek tersebut, saya pikir jika ada investor atau proposal dari investor, kami menganggap itu sebagai prioritas kami saat ini,” ujarnya.
Bagi Minahasa Utara, proyek tersebut merupakan upaya mengubah potensi daerah menjadi agenda investasi yang lebih konkret. Likupang diarahkan untuk memperkuat sektor pariwisata, sementara pabrik pengolahan kelapa diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah.
Joune sebelumnya juga memaparkan bahwa Minahasa Utara memiliki potensi besar di sektor pariwisata, pertanian dan perikanan. Selain kawasan Likupang, Minut memiliki pantai dan sejumlah pulau dengan potensi wisata, termasuk Pulau Talisei yang memiliki keunikan berupa ikan purba coelacanth.
Di sektor pertanian, Minut memiliki potensi produksi kelapa yang besar serta menjadi salah satu sentra produksi rempah-rempah di Sulawesi Utara.
Astri mengatakan PT SMI tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga dapat membantu pemerintah daerah dalam mempersiapkan proyek agar lebih siap ditawarkan dan dibiayai.
Salah satunya melalui Project Development Facility yang dikembangkan PT SMI bersama Bank Dunia.
Fasilitas tersebut dapat membantu pemerintah daerah menyiapkan dokumen proyek, seperti feasibility study, detail engineering design (DED), hingga kajian lingkungan.
PT SMI juga dapat menghubungkan pemerintah daerah dengan sejumlah mitra yang memiliki fasilitas technical assistance, termasuk Bank Dunia, OECD dan Asian Development Bank (ADB).
“Kalau misalkan ingin ngobrol-ngobrol lebih jauh atau diskusi terkait dengan prioritas infrastruktur di daerah, kami PT SMI akan mendampingi untuk memberikan masukan atau mengkoneksikan kepada partner-partner kami,” jelas Astri.
Respons PT SMI tersebut menunjukkan pentingnya langkah Minahasa Utara dalam menyusun proyek investasi secara lebih terarah. Tidak hanya menawarkan potensi daerah, Pemkab Minut mulai memetakan proyek prioritas, kebutuhan investasi dan alternatif pembiayaannya.
Dengan pendekatan tersebut, gagasan pembangunan yang disampaikan Joune Ganda tidak berhenti pada promosi potensi daerah, tetapi diarahkan menjadi proyek yang dapat dipertemukan dengan investor maupun lembaga pembiayaan.
AOE 2026 berlangsung pada 27-29 Agustus 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, dengan mengusung tema “Jelajahi Ragam Komoditas Indonesia Tanpa Batas”.
(Finda Muhtar)







