Minahasa, VivaSulut – Fenomena kemunculan ikan sapu-sapu di Danau Tondano Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara kian meresahkan nelayan setempat.
Dalam beberapa waktu terakhir, ikan yang dikenal sebagai spesies invasif ini semakin sering tertangkap dalam jumlah besar, bahkan dengan ukuran yang tidak biasa.
Kondisi ini dikeluhkan para nelayan karena berdampak langsung pada hasil tangkapan mereka.
Ikan sapu-sapu tidak memiliki nilai jual tinggi, sehingga kehadirannya justru merugikan.
Salah satu nelayan, Hendro Kandouw, membagikan pengalamannya melalui media sosial.
Ia mengaku terkejut dengan jumlah ikan sapu-sapu yang masuk ke dalam perangkapnya.
“Baru satu jam perangkap dipasang, sudah penuh dengan ikan sapu-sapu,” ungkap Hendro.
Menurutnya, kondisi ini berbeda jauh dibanding sebelumnya, di mana ikan konsumsi seperti mujair atau lobster lebih dominan tertangkap.
Kini, keberadaan ikan sapu-sapu justru mendominasi dan menggeser hasil tangkapan utama nelayan.
Tak hanya jumlahnya yang banyak, ukuran ikan sapu-sapu yang tertangkap juga tergolong besar bahkan lebih dari 2 Kg per ekor.
Hal ini semakin menimbulkan kekhawatiran akan perkembangan populasi yang tidak terkendali di Danau Tondano.
Hendro juga menyoroti karakteristik ikan tersebut yang dinilai menyulitkan. Ia menyebut ikan sapu-sapu cepat membusuk setelah ditangkap.
“Hanya kurang dari tiga jam didiamkan di darat, ikan ini sudah berbau sangat busuk, bahkan bagian perutnya mulai pecah. Karena itu nelayan disini, inisiatif untuk tanam,” jelasnya.
Sebagai pedagang yang sehari-hari menjual lobster, mujair, dan ikan khas Tondano lainnya, Hendro mengaku kondisi ini merugikan dari sisi ekonomi.
Selain tidak laku dijual, ikan sapu-sapu juga menyulitkan dalam proses penanganan karena cepat rusak.
“Pak Bupati Minahasa, tolong atasi masalah ini,” mintanya.
Secara ilmiah, ikan sapu-sapu atau plecostomus dikenal sebagai spesies invasif yang mampu berkembang biak dengan cepat dan beradaptasi di berbagai kondisi perairan.
Kehadirannya dapat mengganggu ekosistem karena bersaing dengan ikan lokal dalam mendapatkan makanan dan ruang hidup.
Selain itu, ikan ini juga berpotensi merusak habitat dasar danau karena kebiasaannya menggali substrat untuk membuat sarang.
Aktivitas tersebut dapat meningkatkan kekeruhan air dan merusak area pemijahan ikan lokal.
Dari sisi kesehatan, ikan sapu-sapu tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi secara rutin.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ikan ini berpotensi mengandung logam berat seperti merkuri dan timbal, terutama jika hidup di perairan yang telah tercemar.
Selain itu, struktur dagingnya yang keras serta kandungan bakteri yang tinggi membuat ikan ini berisiko untuk dikonsumsi.
Jika tidak dikendalikan, invasi ikan sapu-sapu dikhawatirkan akan semakin meluas dan memperparah kondisi perikanan di danau terbesar di Sulawesi Utara tersebut.
(Finda Muhtar)






