Bupati Thungari Dorong Rumah Tradisional Sangihe Kembali Jadi Ruang Hidup dan Identitas Budaya

Sangihe230 Dilihat

Sangihe,VivaSulut — Rumah tradisional Sangihe didorong untuk kembali dipandang bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari ruang hidup dan identitas budaya masyarakat. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Budaya dengan subtema “Penemuan Kembali Rumah Tradisional Sangihe sebagai Ruang Hidup dan Identitas Budaya.” yang digelar di Ruang Serbaguna Rumah Jabatan Bupati, Selasa (29/9/2026)

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, yang sekaligus menyampaikan sambutan di hadapan para peserta seminar.

Dalam sambutannya, Thungari menegaskan bahwa kebudayaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sangihe. Menurutnya, rumah tradisional tidak hanya memiliki nilai dari sisi arsitektur, tetapi juga menyimpan pengetahuan, nilai sosial, kearifan lokal hingga perjalanan kehidupan masyarakat yang diwariskan antargenerasi.

“Rumah tradisional bukan sekadar bangunan fisik, tetapi merupakan ruang hidup yang merekam pengetahuan, nilai sosial, kearifan lokal serta perjalanan kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi,” demikian disampaikan Bupati.

Ia mengatakan, upaya untuk menemukan dan mengenali kembali rumah tradisional Sangihe menjadi penting agar generasi saat ini maupun generasi mendatang tetap memiliki keterikatan dengan akar budaya daerah.

Karena itu, seminar budaya tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai ruang diskusi, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui langkah konkret berupa penggalian, pendokumentasian, pelestarian hingga pengenalan kembali arsitektur dan nilai filosofis rumah tradisional Sangihe kepada masyarakat, terutama generasi muda.

Seminar menghadirkan tiga pembicara, yakni Ketua Dewan Adat Lukman Makapuas, Sesepuh Adat Niklas Mehare, serta Soleman Bakir selaku penggagas kegiatan. Ketiganya membagikan perspektif terkait keberadaan rumah tradisional Sangihe, nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya, serta pentingnya pelestarian di tengah perkembangan zaman.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Yubelita Andriani Tudus, pejabat fungsional yang mewakili Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, bersama unsur adat dan peserta seminar.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, pemerhati budaya, masyarakat dan instansi terkait dalam menjaga warisan budaya Sangihe.

(Nie)