Periksa Kesehatan Gratis Tanpa Tunggu Sakit, Dinkes Sangihe Kejar Cakupan CKG

Sangihe71 Dilihat

Sangihe,VivaSulut — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Kepulauan Sangihe masih menghadapi tantangan. Cakupan pemeriksaan di sejumlah Puskesmas hingga Juli 2026 masih rendah, bahkan skrining kesehatan bagi pelajar belum mencapai 10 persen dari target.

Kondisi ini mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe untuk kembali mengajak masyarakat memanfaatkan program CKG sebagai langkah deteksi dini penyakit, tanpa harus menunggu munculnya gejala.

Kepala Dinas Kesehatan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, mengatakan CKG merupakan salah satu dari delapan program hasil cepat (Quick Wins) pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Program ini sangat baik karena memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara gratis minimal satu kali dalam setahun,” ujar Pasandaran saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, pemeriksaan CKG tidak hanya sebatas mengecek kondisi fisik. Masyarakat juga dapat menjalani skrining terhadap sejumlah penyakit berisiko tinggi, seperti gangguan kardiovaskular, kanker, penyakit metabolik dan berbagai penyakit lainnya.

Pelayanan tersebut dilaksanakan tenaga kesehatan melalui Puskesmas yang tersebar di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Berdasarkan evaluasi Dinas Kesehatan melalui aplikasi ASIK, capaian CKG di Sangihe masih belum merata.

Sejumlah Puskesmas telah mampu mencapai cakupan di atas 50 persen. Namun, masih terdapat Puskesmas dengan capaian di bawah 20 persen, di antaranya Puskesmas Dagho, Marore, Salurang dan Kahakitang.

“Kami sementara mengevaluasi apakah kondisi ini disebabkan pelaksanaan di Puskesmas yang belum optimal atau karena dukungan lintas sektor dan partisipasi masyarakat yang masih rendah,” kata Pasandaran.

Ia menilai kondisi tersebut membutuhkan dukungan bersama. Bukan hanya dari tenaga kesehatan, tetapi juga pemerintah, sektor pendidikan, pemerintah kecamatan dan kelurahan/kampung, tokoh masyarakat hingga masyarakat itu sendiri.

Pasandaran mengingatkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak harus menunggu seseorang mengalami keluhan.

“Kalau kita melakukan skrining sejak dini, kita bisa mengetahui dan mengidentifikasi kondisi kesehatan. Ketika masih dalam kondisi ringan, kita bisa segera melakukan antisipasi dan pengobatan secara komprehensif,” jelasnya.

Tidak hanya masyarakat umum, CKG juga menyasar anak-anak usia sekolah mulai tingkat SD hingga SMA.

Namun, cakupan skrining kesehatan pelajar di Sangihe saat ini masih sangat rendah, bahkan belum mencapai 10 persen dari target.

Karena itu, Dinas Kesehatan meminta dukungan Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru dan orang tua agar memberikan kesempatan kepada petugas kesehatan melakukan pemeriksaan di sekolah.

“Kami berharap para kepala sekolah, guru-guru dan orang tua murid dapat mendukung dan memberikan izin kepada anak-anak mereka untuk dilakukan skrining ketika petugas Puskesmas mengunjungi sekolah,” ujarnya.

Pasandaran menilai skrining sejak usia sekolah sangat penting karena gangguan kesehatan dapat ditemukan lebih awal dan segera ditangani.

“Kalau siswa kita skrining dan ternyata ada kelainan, semakin cepat kita tangani. Kalau terlambat diidentifikasi, bisa saja anak sudah dalam kondisi serius baru mendapatkan pengobatan sehingga prognosisnya menjadi kurang baik,” katanya.

Untuk meningkatkan cakupan, pelayanan CKG di Sangihe tidak hanya mengandalkan masyarakat datang ke Puskesmas.

Setiap bulan, Puskesmas melakukan koordinasi lintas sektor dan menyusun jadwal pelayanan dengan mendatangi berbagai kelompok masyarakat.

Sasarannya mulai dari sekolah, rumah ibadah, kelompok masyarakat, tokoh agama, pemuda, pekerja, perajin, buruh hingga instansi pemerintah.

“Setiap bulan Puskesmas melakukan koordinasi dengan lintas sektor. Apakah itu sekolah, gereja, masjid, masyarakat umum melalui Kapitalau atau lurah setempat, sudah disiapkan jadwal untuk dikunjungi,” ungkap Pasandaran.

Di wilayah perkotaan, petugas bahkan melakukan pelayanan dengan mendatangi sejumlah instansi pemerintah, baik di tingkat kecamatan, UPTD, dinas maupun badan.

Menurut Pasandaran, strategi jemput bola tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus memperluas jangkauan CKG.

Ia kembali mengajak seluruh masyarakat untuk tidak melewatkan kesempatan pemeriksaan kesehatan gratis tersebut.

“Sebagai Kepala Dinas Kesehatan, saya berharap seluruh segmen, baik masyarakat umum maupun siswa-siswa di sekolah, dapat memberikan diri dengan sukarela dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk menyukseskan program Cek Kesehatan Gratis,” pungkasnya.

(Nie)