Tolak Pencemaran Lingkungan, Warga Tanjung Merah Bitung Tutup Akses PT Futai

Bitung, Berita Utama145 Dilihat

Bitung, VivaSulut.com – Polemik tuntutan warga Kelurahan Tanjung Merah Kecamatan Matuari terkait dugaan pencemaran lingkungan PT Futai Sulawesi Utara tak kunjung usai.

Warga semakin gerah, mengingat berbagai cara telah dilakukan agar pemerintah melakukan evaluasi pengelolaan limbah perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) ini.

Dan puncaknya, Jumat (19/6/2026), ratusan warga kembali menggelar aksi dengan mendatangi perusahaan kertas itu karena limbah yang dihasilkan tak kunjung dikelola sebagaimana mestinya.

Aksi kali ini tergolong lebih berani dibandingkan aksi sebelumnya. Tidak hanya menyampaikan tuntutan, tapi warga melakukan pemblokiran jalan dengan cara membakar ban bekas di tengah jalan.

Buntut dari situasi itu, sejumlah truk tronton yang hendak menuju ke pabrik PT Futai jadi tertahan.

Warga tak mengizinkan mobil-mobil besar tersebut melintas di jalan utama Kelurahan Tanjung Merah.

“Memang kami sengaja menutup akses jalan. Tapi yang kami larang lewat cuma mobil tronton yang akan menuju ke perusahaan untuk membawa bahan baku. Kalau masyarakat umum kami persilahkan lewat,” kata salah satu perwakilan warga Kelurahan Tanjung Merah, Elsye Lengkong.

Aksi blokir jalan ini nyaris berujung kisruh. Pasalnya, saat aksi berlangsung sekelompok karyawan PT Futai turun ke lokasi untuk menggagalkan aksi tersebut.

Untung saja aparat keamanan cepat datang sehingga upaya antisipasi bisa dijalankan.

Pemblokiran jalan ini imbas dari aksi unjuk rasa yang dilaksanakan Jumat pekan lalu. Warga sengaja menutup jalan karena menilai respons perusahaan perihal tuntutan mereka tidak memuaskan.

Sudah begitu, pada Minggu (21/6/2026) malam warga juga sempat dibuat kesal. Bagaimana tidak, jalan air yang sempat ditutup warga pasca unjuk rasa sudah dibuka secara paksa.

Mirisnya, yang membuka adalah warga pendatang suruhan perusahaan. Hal ini dibenarkan oleh Lurah Tanjung Merah, Bartje Ticoalu.

“Iya betul, warga sempat emosi karena yang membuka bukan orang dari sini. Setelah ditanya mereka mengaku disuruh orang perusahaan. Makanya warga berencana melaporkan kejadian ini ke polisi,” kata Bartje.

(redaksi)