Minut, VivaSulut – Bupati Minahasa Utara Joune Ganda menyampaikan terima kasih kepada seluruh petugas, relawan, dan masyarakat yang telah bergotong royong menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan kaki Gunung Klabat.
Ia mengapresiasi kerja keras semua pihak dalam memadamkan api sekaligus kedisiplinan masyarakat mengikuti imbauan dan protokol penanganan bencana.
Joune Ganda mengatakan, perkembangan kebakaran di Minahasa Utara mulai menunjukkan penurunan.
Meski demikian, masyarakat masih dapat melihat kabut asap, terutama ketika suhu udara meningkat pada pagi hingga siang hari.
“Saya menyampaikan banyak terima kasih kepada seluruh stakeholder yang sudah membantu dan terus berupaya, termasuk Damkar, BPBD Minahasa Utara, kelompok masyarakat, serta relawan yang bekerja secara sukarela untuk memadamkan api,” ujar Joune Ganda saat memberikan keterangan terkait perkembangan penanganan bencana, Selasa (20/10/2026).
Menurutnya, upaya pemadaman membutuhkan kerja sama berkelanjutan karena titik api berpotensi kembali muncul apabila masih ada aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali.
Karena itu, Joune kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan perkebunan maupun sampah sembarangan.
Ia menilai, kebiasaan tersebut dapat memperberat pekerjaan petugas yang telah berjibaku memadamkan api di tengah kondisi kering dan paparan asap.
“Saya berharap masyarakat jangan melakukan pembakaran lahan yang tidak terkontrol. Kasihan teman-teman yang sudah bekerja keras, tetapi kemudian muncul lagi titik api di tempat lain,” tegasnya.
Berdasarkan data yang diperoleh VivaSulut.id, estimasi luas areal kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Klabat, Kabupaten Minahasa Utara, mencapai 1.149,20 hektare.
Data tersebut berdasarkan analisis citra satelit Landsat 8-9 OLI/TIRS C2 L2 dengan tanggal penginderaan 11 Oktober 2026 dan produk data 12 Oktober 2026.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Minahasa Utara, Styvi Watupongoh, menyampaikan data tersebut sebagai perkembangan terbaru luasan areal yang terdampak kebakaran.
Berdasarkan data citra satelit, areal yang terbakar terdiri atas 634,98 hektare di Area Penggunaan Lain (APL) dan 514,22 hektare di kawasan Hutan Lindung (HL).
“Besarnya luasan areal terdampak tersebut menjadi perhatian dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Klabat. Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara terus melakukan koordinasi dan penanganan bersama instansi terkait, petugas pemadam kebakaran, BPBD, unsur TNI-Polri, relawan, serta masyarakat untuk mengendalikan kebakaran dan mencegah munculnya titik api baru,” ujar Styvi.
Sementara itu, Kepala BPBD Minut, Theodore Lumingkewas menyebutkan, jumlah titik api saat ini sudah semakin berkurang.
Hingga Sabtu, (17/10/2026) terdapat 8-9 titik api dengan variasi ukuran sementara upaya pemadaman terus dilakukan.
“Tadi malam, (19/10/2026) Hukum Tua Desa Pinilih melaporkan ada juga titik api di sana sehingga BPBD Minut dan Provinsi melanjutkan pemadaman,” kata Lumingkewas menjawab VivaSulut.
Pemkab Minut Tanggap Darurat Bencana
Dalam penanganan bencana ini, Bupati Joune Ganda menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara telah mengikuti tahapan penanggulangan bencana, mulai dari penetapan status siaga darurat hingga penetapan dan perpanjangan status tanggap darurat.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat respons pemerintah daerah, memperluas pengerahan sumber daya, serta mempermudah koordinasi permintaan bantuan kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.
Adapun, dukungan yang telah diterima Pemkab Minut berasal dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, BPBD provinsi, serta unsur TNI dan Polri.
Bantuan juga melibatkan pihak terkait lainnya, termasuk pengelola bandara dalam penanganan kebakaran di sekitar kawasan tersebut.
Ia juga menginstruksikan jajaran pemadam kebakaran dan BPBD agar tetap memperhatikan keselamatan serta kesehatan selama menjalankan tugas.
Menurutnya, petugas menghadapi risiko paparan asap dan debu ketika melakukan pemadaman.
Karena itu, penggunaan perlengkapan pelindung dan pengaturan kondisi fisik menjadi bagian penting dalam operasi penanganan kebakaran.
Di sisi lain, Pemkab Minut turut mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak sekolah dan warga yang berada dekat titik kebakaran.
Pemerintah terus mengimbau anak-anak sekolah untuk menggunakan masker.
Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar titik api juga diminta menggunakan pelindung pernapasan sesuai kebutuhan dan kondisi paparan asap.
Terkait kebutuhan masker dengan kemampuan filtrasi lebih tinggi, ia mengatakan pemerintah daerah akan berkoordinasi untuk melihat ketersediaan dan kebutuhan di lapangan.
“Kalau memang ada wilayah atau sekolah yang membutuhkan, tolong disampaikan kepada kami. Nanti saya akan perintahkan BPBD untuk menyiapkan bagi mereka yang memang sangat membutuhkan,” katanya.
Puluhan Ribu Galon Air Bersih Telah Disalurkan

Selain penanganan kebakaran dan dampak asap, Pemkab Minut juga terus menyalurkan bantuan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.
Joune Ganda mengungkapkan, puluhan ribu galon air bersih telah disalurkan ke berbagai wilayah di Kabupaten Minahasa Utara, terutama kawasan kepulauan serta wilayah Kecamatan Wori, Likupang Barat, dan Likupang Timur.
Ia memastikan, distribusi air bersih tidak terkendala kondisi jaringan pipa pasokan PDAM.
Menurutnya, jaringan tersebut masih berfungsi dengan baik sehingga pengisian mobil tangki dapat dilakukan tanpa hambatan berarti.
Tantangan utama justru berada pada jarak antartitik distribusi yang berjauhan dan perlunya koordinasi agar bantuan dapat menjangkau seluruh masyarakat secara merata.
Karena itu, Joune meminta pemerintah desa mengoordinasikan kebutuhan warganya, mulai dari pendataan jumlah penerima hingga penentuan titik pengumpulan dan distribusi air.
Ia mengakui, terkadang muncul keluhan dari warga yang belum menerima bantuan, sementara distribusi telah dilakukan di wilayah lain dalam desa yang sama.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat terjadi karena informasi kebutuhan belum terkoordinasi secara menyeluruh.
“Tidak ada niat dari kami untuk membeda-bedakan masyarakat. Kalau ada permintaan dari pemerintah desa, kami akan melayani. Karena itu, alangkah baiknya distribusi dikoordinasikan melalui pemerintah desa supaya seluruh masyarakat bisa terlayani,” jelasnya.
Joune juga membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan air bersih melalui pemerintah desa agar permintaan dapat segera ditindaklanjuti dan penyaluran lebih terorganisasi.
Waspadai Kabut Asap, Masyarakat Diminta Tetap Disiplin
Terkait kabut asap yang masih terlihat, Joune menyampaikan bahwa berdasarkan informasi BMKG, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi kebakaran di Minahasa Utara dan Sulawesi Utara, tetapi juga asap yang terbawa angin dari wilayah lain, termasuk Maluku dan Papua.
Ia menjelaskan, sisa asap, uap air, dan partikel debu dari proses pemadaman dapat terangkat ketika suhu meningkat sehingga kabut terlihat lebih jelas.
Sementara itu, masyarakat diminta tetap mengikuti arahan pemerintah dan memperhatikan kondisi kesehatan, terutama jika berada dekat lokasi kebakaran atau mengalami gangguan pernapasan akibat asap.
Pemkab Minut berharap kerja sama petugas, relawan, pemerintah desa, dan masyarakat terus terjaga hingga seluruh titik api dapat ditangani dan dampak bencana berangsur pulih.
Joune menegaskan bahwa keberhasilan penanganan bencana tidak hanya bergantung pada upaya pemadaman, tetapi juga pada kedisiplinan masyarakat mencegah kebakaran baru serta solidaritas dalam membantu warga yang membutuhkan air bersih dan perlindungan dari dampak asap.
(Finda Muhtar)










