Rona Budaya Minahasa Raya Tak Sekadar Pertunjukan, Dorong Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kreatif

Pemprov Sulut, Manado2717 Dilihat

Manado, VivaSulut — Rona Budaya Sulawesi Utara memasuki pekan kedua dengan menjadikan Museum Negeri Sulawesi Utara sebagai ruang perjumpaan antara masyarakat, seniman, budayawan, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Mengusung kekayaan budaya Minahasa Raya, kegiatan yang digagas Dinas Kebudayaan Daerah Sulawesi Utara ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional sekaligus produk ekonomi kreatif daerah.

Rona Budaya merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Utara.

Setelah sebelumnya memberikan panggung bagi kesenian dari kawasan Nusa Utara, pekan kedua diarahkan untuk memperkenalkan keragaman tradisi dari sejumlah daerah di Minahasa Raya.

Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu momentum untuk menjaga keberadaan seni dan budaya daerah agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

“Setelah minggu sebelumnya dari Nusa Utara, minggu ini Minahasa. Kita berharap bisa menampilkan budaya yang ada,” ujar Yulius.

Menurutnya, keberlangsungan kegiatan budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi berbagai elemen, mulai dari seniman, budayawan, musisi, pelaku UMKM hingga masyarakat.

Yulius juga melihat Rona Budaya memiliki potensi untuk memberikan manfaat lebih luas, terutama bagi penguatan ekonomi masyarakat.

Kehadiran UMKM dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat membuka ruang promosi sekaligus meningkatkan transaksi produk lokal.

“Ini juga untuk meningkatkan ekonomi,” katanya.

Karena itu, Gubernur mengajak masyarakat yang datang untuk tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga mendukung pelaku UMKM dengan membeli produk yang ditawarkan selama kegiatan berlangsung.

Ia turut meminta dukungan insan pers dalam memperluas promosi Rona Budaya sehingga berbagai kekayaan seni dan budaya Sulawesi Utara dapat semakin dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional.

“Ke depan semakin tampak, terpelihara kepada anak cucu, wisatawan baik lokal maupun internasional,” ungkapnya.

Dari Tari Mahambak hingga Musik Kolintang

Beragam kesenian dari Minahasa Raya menjadi daya tarik utama dalam pelaksanaan Rona Budaya pekan kedua.

Kota Manado antara lain menghadirkan Tari Mahambak yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bantik. Selain itu, ditampilkan pula Tari Katrili dan Tari Maengket yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Minahasa.

Kabupaten Minahasa Utara turut mengambil bagian melalui Tari Lenso. Dari Kota Tomohon, masyarakat dapat menyaksikan pertunjukan musik kolintang, sedangkan Kabupaten Minahasa menghadirkan musik bambu khas daerah tersebut.

Kabupaten Minahasa Tenggara menghadirkan penyanyi solo Velope Pelleng dengan lagu berbahasa daerah. Penampilan lainnya berupa kwartet yang membawakan lagu “Kapia Makalupa”.

Sajian budaya juga diisi dengan lagu “Makaruyen Makalelon” serta penampilan Mawolai dari Minahasa Selatan yang membawa pesan mengenai upaya pelestarian yaki, satwa endemik Sulawesi Utara.

Sementara itu, Kota Bitung menampilkan Tarian Cakalang. Tarian kreasi tersebut menggambarkan karakter Kota Bitung sebagai daerah yang memiliki kekuatan pada sektor perikanan.

Rangkaian pertunjukan kemudian dilengkapi dengan penampilan penyanyi Gio Lelaki sebagai salah satu sajian hiburan dalam puncak acara.

Museum Jadi Ruang Merawat Warisan Budaya

Di tengah rangkaian pertunjukan, keberadaan Museum Negeri Sulawesi Utara juga menjadi perhatian Gubernur Yulius Selvanus.

Menurutnya, museum memiliki peran penting sebagai tempat merawat sekaligus memperkenalkan berbagai warisan budaya daerah kepada masyarakat.

“Museum ini kita jaga, kita rawat bersama. Budaya, seni dan UMKM kita jaga dan tingkatkan ke dunia. Inilah Sulawesi Utara yang kita cintai bersama,” tuturnya.

Rona Budaya masih akan berlanjut selama sepekan ke depan di halaman Museum Negeri Sulawesi Utara. Selain pertunjukan seni, kegiatan tersebut juga menghadirkan produk UMKM dan kuliner lokal.

Gerabah Pulutan dari Kabupaten Minahasa turut dijadwalkan menjadi bagian dari sajian budaya yang diperkenalkan kepada pengunjung melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Minahasa.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Rona Budaya diharapkan mampu menjadi lebih dari sekadar panggung pertunjukan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang untuk menjaga keberlanjutan budaya lokal sekaligus mempertemukan potensi seni, pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif Sulawesi Utara.

(***/Finda Muhtar)